Selasa, 23 Desember 2014

Diantara dua cinta


Aku seorang photographer terkenal di kotaku sekarang.namaku Dhewa.sudah 5 tahun aku jadi tukang photo.demi mencari sesuap nasi dan menghidupi anak istriku.aku tekuni bidangku yang sekarang ini.
Ya,istriku seorang perempuan yang tegar.dia bisa menerima aku apa adanya.kisah cintaku dengan istriku terbilang unik.dulu istri tak mau menerima cintaku.
Waktu itu aku masih duduk di bangku kuliah.pertama kali mengenal istriku sebut aja tini saat masih duduk di semester dua.tini aku kenal dari seorang temanku rudi.yang kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah tini.aku mulai dekat dengan tini sedikit demi sedikit.lalu pada waktu ada tugas kuliah di rumah rudi.aku beranikan untuk mengutarakan cintaku pada tini.namun cintaku bertepuk sebelah tangan.tini menolak aku.tapi aku tak gentar untuk terus mendekatinya lagi.
Sejak saat itu,tiap kali ada kesempatan aku gunakan untuk mendekatinya.hingga tini pun sebenarnya enggan berhubungan denganku lagi.lalu aku punya ide,aku dekati adiknya.namanya tina.saat itu aku minta tini untuk mengenalkan aku pada adiknya tina.dan tini pun setuju.padahal sebenarnya agar aku tak pernah jauh dari tini.

Waktu pun berlalu,aku resmi berpacaran dengan tina.walau sebenarnya aku tidak sepenuhnya mencintai tina.aku dekati tina hanya demi supaya selalu dekat dengan tini.
Sudah 2 tahun aku berpacaran dengan tina.lalu pada suatu hari aku lihat di teras rumah tina ada kakaknya tini sedang melamun.seperti ada sesuatu yang di pikirkan.lalu aku dekati dan bertanya padanya
" kok melamun tin ? " si tina kemana ? " tanyaku membuka percakapan.
Lalu dia menjawab." tina pergi sama ibu ke supermaket "
Ku tanya lagi dia " ada apa kok kelihatannya sedih gitu ? "
Dan dia menjawab " ibu menyuruhku menikah wa,sedangkan aku sendiri sampai saat ini belum punya pasangan.ibu berkata seperti itu supaya tina dan kamu biar bisa nikah cepet.agar terhindar dari perbuatan dosa "
Aku diam sejenak memikirkan perkataan tini.padahal di dalam hatiku berkata " seandainya si tina itu kamu tin,aku sudah pasti akan menikahimu."
Lalu aku beranikan diri untuk berbicara jujur pada tini.bahwa sebenarnya selama ini aku tidak mencintai adiknya.melainkan pada dia.tini pun terkejut setengah mati.aku bilang kalo aku masih mencintainya sampai sekarang.dan seandainya aku di suruh menikahinya aku pun siap.
Lalu tini menangis.dia gak mau menyakiti adiknya tina jika dia nanti menikah denganku.lalu tini bercerita perasaannya padaku selama ini.dia sebenarnya cemburu tiap kali melihat aku jalan dengan tina.tapi dia malu untuk mengakui kalo cintanya telah tumbuh padaku.
Dan aku menegaskan padanya,kalo kita sama2 mencintai.kita lalui masalah ini sama2.dan tini pun mengiyakan apa yang akan ku perjuangkan nanti.lalu aku bergegas pulang.
Sore ini,aku kembali ke rumah tini.untuk menemui tina adiknya.ku temui tina yang pada saat itu sedang bercengkerama dengan tini.ku hampiri mereka berdua.lalu dengan keberanianku,aku berbicara kepada tina tentang apa yang aku bicarakan tadi siang dengan tini kakaknya.aku sudah duga,kalau tina bakalan histeris mendengar penjelasanku.yang selama ini pura2 mencintainya demi supaya dekat dengan kakaknya tini.

Tina menangis di pelukan kakaknya.mereka berdua sama2 beruraikan air mata.aku tertunduk lesu.merasa bersalah pada mereka berdua.lalu tina berkata pada kakaknya " mbak tin,udahlah cinta memang gak bisa di paksakan mbak.menikahlah dengan mas dhewa "
Aku sungguh terkejut mendengar perkataan tina.sungguh besar hati gadis ini." mas dhewa,tina udah maafin mas.tina tahu dari dulu mas cinta sama mbak tini.tina di beritahu rudi.tina memang mencintai mas dhewa sepenuh hati.tapi tina bahagia jika mas dhewa dan mbak tini juga bahagia."
Aku sungguh tak percaya dengan ucapan tina..aku berterima kasih pada tina yang sudah memaafkan ku..lalu seketika itu juga aku menemui orang tua tini.dan menyampaikan niatku untuk menikahi tini.reaksi orang tua tini sama sekali tak percaya dengan hubungan diantara aku,tina,dan tini.lalu mereka dengan besar hati memberikan restunya untuk ku dan tini.betapa bahagia aku saat itu.
Sebulan kemudian pernikahan aku dan tini pun di gelar.kami berdua bahagia hari itu.kemudian waktu aku duduk di kursi pengantin.ku dapati sosok wanita di sudut tembok sana memperhatikan aku dan tini.tatapannya sayu dan matanya sembab.ya tuhan itu ternyata tina yang sedari tadi menatap aku.dan aku merasa gelisah saat itu.ada rasa yang tak dapat kumengerti.
Aku berusaha mengalihkan pandanganku.tapi tetap ada sesuatu yang bergejolak dalam hatiku pada saat tina menatapku di sudut ruangan itu." oh tuhan,jangan biarkan cinta ini tumbuh untuk tina " kataku dalam hati.
Usai pesta pernikahanku dengan tini malam itu,hatiku resah memikirkan tina.rasa ini tak mau pergi.padahal aku sudah coba untuk mencegahnya.
Seminggu kemudian ku boyong istriku pulang ke rumahku.saat aku mau berpamitan kepada kedua mertuaku untuk mohon ijin membawa tini pulang.tina menyelipkan sebuah surat di tanganku.aku kaget.entah apalagi ini.
Segera ku bergegas untuk segera pergi.waktu mereka mengantarku dan tini sampai di depan pagar rumah.kulihat mata tina berkaca2 seperti ingin mengatakan sesuatu.tapi aku pura2 tak melihatnya.
Setiba di rumahku,aku dan istriku merasa bahagia sekali.damai hatiku jika dekat dengan istriku tercinta.aku pergi keruangan kerjaku.untuk melanjutkan pekerjaanku yang tertunda.dan tini membereskan barang2.lalu aku ingat tadi sewaktu menjemput istriku,tina memberi aku sebuah surat.ku baca surat itu,dalam surat itu tina mengatakan bahwa dia tak bisa mencintai orang lain lagi.dia sangat mencintaiku.demi kebahagiaanku dia rela melepas cintanya untuk kakaknya dan aku.sesaat aku terdiam.memikirkan isi dari surat itu.kepalaku tak dapat berpikir lagi.aku merasa bersalah.lalu aku di kejutkan oleh suara istriku untuk makan malam.ohh ternyata hari sudah gelap.sudah 5 jam lebih aku duduk terpaku dalam bayangan tina tadi.
Ku jalani hidupku dengan tini penuh dengan kebahagiaan..tak terasa sudah 2 tahun aku menikah.dan kini pangeran kecilku akan segera lahir di dunia ini.lengkap sudah kebahagiaanku..
Waktu yang ku tunggu telah tiba.jagoan kecilku telah lahir ke dunia.ku beri nama kenny.seluruh keluarga berkumpul menyambut kelahiran kenny.tak ketinggalan Tina pun hadir.dia sering mencuri pandang kepadaku.tapi tak ku hiraukan.karena aku sudah anggap dia adikku juga.aku tak pernah bercerita kepada istriku tentang surat dari tina tempo itu.aku gak mau istriku merasa bersalah pada adiknya.
" mas dhewa " aku di kejutkan oleh suara yg tidak asing lagi.itu suara tina.
" Eh kamu na , ada apa ? Koq gak temani kakakmu. " kataku menyembunyikan kegelisahanku
" tina cuma mau tanya kabar mas dhewa aja. Dan juga mau memberitahukan bahwa bulan depan tina akan di persunting lelaki pilihan ibu.tapi jujur tina tak pernah mencintai laki2 itu mas..mas dhewa kan tau sapa orang yg tina cintai " kata tina membuka percakapan.
" maafkan aku na.bukan maksudku menyakiti hatimu seperti ini.aku terlalu mencintai kakakmu." kataku pada tina sembari meninggalkan tempat itu.karena aku berusaha jaga hati supaya tidak terjerat cinta padanya lagi.
Malam ini seakan menghakimiku.aku termenung duduk di ruangan kerjaku.setelah anak dan istriku terlelap.aku di hantui rasa bersalah pada tina.dan kini ia akan menikah dengan lelaki yang tak di cintainya.pilihan ibu.dan tak mungkin tina menolak kata ibu." maafkan aku tina,maafkan aku " teriakku dalam hati..
Hari persandingan tina telah tiba.aku dan istriku bergegas pergi ke rumah ibu untuk menghadiri pernikahan tina.setiba di sana aku terpukau oleh kecantikan tina.dia sangat anggun mengenakan baju pengantin jawa itu.dia tersenyum padaku dan tini.tapi aku tak bisa mengartikan apa arti senyuman tina itu.aku duduk sendiri di ruang tamu.sedangkan istriku bersama ibunya." mas dhewa " panggil tina. " mas aku tak ingin hari ini terjadi mas.tapi aku tak kuasa menolak keinginan ibu." kata tina mendekatiku. " di saat aku duduk di sana nanti mas.aku membayangkan yang bahwa bukan aku yang jadi penganti itu mas." kata tina sembari matanya menitikkan air mata
" sudahlah na,takdir memang tak menyatukan kita.kita memang tak dapat bersatu.bahagialah kamu dengan suami mu " kataku pada tina.sambil menguatkan hatinya.
Lalu tina meninggalkan aku.dan kembali bersanding dengan suaminya.kini aku telah lega,tina sudah menikah walau dia tak mencintai suaminya.rasa bersalahku kepadanya serasa berkurang.bahagialah adikku.cinta tak selamanya harus bersatu.hakekat cinta tak harus memiliki..

Selasa, 16 Desember 2014

Hujan

Hujan lagi sore ini. Deras, dingin. Aku berlari secepat yang aku bisa menuju tempat berteduh. Di halte bis dekat taman aku berteduh. Aku menggerutu kesal, tubuhku basah kuyup. Sambil menunggu reda, tatapanku menerawang ke tetes-tetes hujan yang membasahi bumi dan orang-orang yang berlalu lalang dihadapanku menggunakan payung berwarna-warni.

rio, kalo kamu disini, Kamu bakal suka melihat pemandangan ini, gumamku dalam hati.
Aku langsung bergidik. Bukan karena dingin yang menusuk, suatu kenangan mendadak timbul diotakku yang membuatku bergidik. Kenangan yang berusaha kukubur dalam-dalam.
Hhh.. aku menghela napas panjang. Pikiranku melayang kembali ke masa lalu. ke waktu tiga tahun yang lalu, saat peristiwa itu terjadi. Aku melamun.
***
“Kakak, liat deh.. hujan, Kak!” ujar seorang anak laki-laki berusia 6 tahun saat itu. Aku tersenyum melihat dia jingkrak-jingkrak kegirangan di jalanan. Hujan deras padahal.
Rio namanya, usianya baru 6 tahun. Adikku satu-satunya. Anak yang sangat enerjik dan benar-benar menyukai sesuatu bernama  hujan. Usianya selisih 9 tahun dariku, jauh memang. Jarak yang jauh itulah yang kadang membuatku merasa kehilangan perhatian kedua orangtuaku dan… aku merasa tidak akan pernah bisa akrab dengannya.
“Rio, udah ah! Ntar sakit.. Kakak yang dimarahin ama Ibu,” kataku. Sambil membawa payung, aku mendekatinya. Tapi, dia malah berlari menjauhiku.
Dasar anak bandel! Bakal aku seret dia pulang begitu ketangkep, gerutuku kepada diri sendiri sambil mengejarnya. Lucu sekali saat itu, aku berlari mengejar dia sambil membawa payung.
Aku terus berkejar-kejaran dengan adikku itu. Mendadak, dia menghilang di suatu tikungan.
“Aduh,  Rio! Udah dong bercandanya, Kakak cape nih,” aku makin menggerutu karena cape mengejarnya. Begitu aku tiba di ujung tikungan tersebut, aku melihat peristiwa itu. Peristiwa yang tidak akan pernah terhapus dari otakku.
Sebuah mobil meluncur kencang dan langsung membuat tubuh mungil adikku, yang saat itu sedang berlari menyebrangi jalan, terpental cukup jauh. Aku langsung berlari mendekatinya. Panik, marah, dan takut, semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Payung yang sedang aku pegang jatuh ke tanah begitu kulihat tubuhnya sudah terbujur kaku di tanah dengan darah mengalir dari mulutnya. Darah yang langsung terhapus oleh tetesan air hujan. Aku menjerit.
Ibuku menangis terus menerus dihadapanku saat pemakaman Dio, Ayahku tampak sangat berduka. Sedangkan aku? Aku hanya terdiam. Diam seperti boneka. Pandangan kosong, ekspresi datar. Aku tidak menangis.
Aku harus tegar. Laki-laki tidak boleh menangis, sugesti itu yang tertanam di otakku sejak kecil. Maka, aku pun tidak menangis dihadapan mereka, tapi hatiku menjerit.
Tuhan… Aku sedih. Sangat sedih. Aku sedih karena merasa kehilangan. Namun, aku jauh lebih sedih dan menyesal karena seumur hidupnya, dia belum pernah mendengarkan kakaknya ini mengucapkan sebuah kalimat sepele tapi sakral: aku sayang kamu.
Rio, Rio, Kakak rindu kamu.
***
Mendadak lamunanku buyar. Sebuah dering telepon membuyarkan lamunanku tentang kenangan itu.
Ibu, nama pemanggil yang tertulis di HP-ku.
“Halo, bu? Ada apa?”
“Kamu dimana, sayang?” suara wanita yang lembut dan menenangkan itu bertanya padaku.
“Masih berteduh di halte, Bu. Hujan sih. Hehe,” jawabku, “Tapi udah reda koq, Ari pulang sekarang deh. Aduh, Bu… Ari gapapa koq! Gausah cemas gitu.” Dan percakapan pun berakhir.
Hujan sudah berubah menjadi gerimis. Aku pun beranjak meninggalkan halte tempatku berteduh, melangkah menuju rumahku.
Aku mendongak menatap langit yang masih kelabu.
Hujan, sampaikan rasa sayangku pada Rio, gumamku.
Dan untuk pertama kalinya sejak waktu itu, aku menangis.

Senin, 15 Desember 2014

bayanganku

Cemburuku pada Pantulanku
malam itu aku sangat begitu ketakutan
pikiran itu terus menerus menghantui
kulihat bayangan diri yang mencemooh
dan menertawakan ketakutan aku
bayangan yang nampak panjang dari tubuhku
seperti bagian dari aku yang lain
saat aku berpindah tempat
dia juga ikut berpindah mengikutiku
ah bayanganku…
irinya aku padamu
meskipun engkau pantulan
dari diriku
dan bergerak sesuai
gerak ketakutan aku
tapi tidak pernah
merasakan ketakutan itu sendiri…

Jumat, 12 Desember 2014

pernyataan cinta (puisi)

Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.

Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.

Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan

Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.

Apakah maksud-Mu?

Mana kutahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu.

Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu,
Bagai unta memahah biak makanannya,

Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara,

Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah,

Aku menanti tanda musim semi.
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi,

Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.

Minggu, 07 Desember 2014

akhir penantian

Aku hidup bukan untuk menunggu cintamu.
Sulit ku terima semua keputusan itu.
Yang kini hilang tersapu angin senja.
Masih sulit pula untuk ku lupakan.
Suram dan seram jika ku ingat kembali.
Mungkin harus ku biarkan semua kenangan itu,
agar abadi oleh sang waktu.

Pagi ini cerah, hangat mentari yang bersinar dan sejuk embun di pagi itu membuat semangat untuk menuntut ilmu makin bertambah. Ku percepat langkahku. Seusai sekolah, ada ekstrakulikuler seni tari dan aku pun mengikutinya. Masih belum beranjak dari tempat duduk ku. Dari arah belakang terdengar suara yang memanggilku.
“Idaaa, tunggu !”

Aku pun melihat ke belakang “Kamu Raff, ada apa kok sampai tergesa-gesa ?” tanyaku penasaran.

“Emmm, ada yang mau kenalan sama kamu !”

“Tapi Raff, udah mau masuk kelas seni tarinya”

“Ya telat dikit kan gakpapa”.

Aku tidak menjawabnya. Aku bergegas pergi menuju kelas seni tari. Aku simpan kata-kata Raffi tapi aku tidak memikirkannya disaat aku sedang mengikuti seni tari.

***

Hari ini aku sengaja berangkat pagi, aku ingin menikmati udara pagi, walaupun jarak antara rumah dan sekolah dekat. Sewaktu istirahat aku kembali ingat dengan kata-kata Raffi kemarin siang. Siapa dia? Anak mana? Namanya siapa? Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di benakku. Hingga aku tak sadar jika aku sedang melamunkannya.

“Heyhey, mikirin siapa sih kamu?” Tanya Ega yang membuyarkan lamunanku.

“Ha? Aku gak mikirin apa-apa tuh!”

“Kok ngelamun sih? Haaa, masih keinget ya sama kata-kata Raffi kemaren?”

“Ehh, apaan sih, mentang-mentang pacar Raffi trus kalian ngejek gitu, ahh gak asyiik”

“Yaya, Cuma bercanda kok”

Tiba-tiba Raffi datang menemuiku. Entah apa lagi yang akan ia sampaikan kembali. Aku sendiri tidak berharap jika kata-kata itu lagi yang akan ia sampaikan.

“Daa, ikut yuk, dia mau ketemu kamu, tuh udah ditunggu di kantin” ajak Raffi.

“Ahh, engga ahh, biarin aja dia samperin”

“Kok gitu? Ya udah deh, ini kesempatan loh, kok malah kamu sia-siain” Ucapan Raffi didengar oleh Layla, yang juga saudara Raffi.

“Ehh, ada apaan nih, keliatannya seru! Ada apa sih Raff, kok gak bilang-bilang?”

“Gak ada apa-apa, udah nanti aku ceritain”

Bel masuk kelas pun berbunyi, aku segera masuk kelas. Dan aku mengikuti pelajaran yang berlangsung hingga usai. Pulang sekolah biasanya aku jalan sendiri, jarak rumah deket.

“Ciiye Idaa” goda Layla

“Ada apa sih?” tanyaku penasaran.

“Tuh, orang yang di depan gerbang pake tas item ada corak biru, itu orang yang mau ketemu kamu.”

“Ha? Siapa dia? Namanya siapa?”

“Dia Tyo, anaknya pendiem banget, dia sahabat karib Raffi sama Adi”

Tanpa kata-kata apapun aku bergegas pulang, dalam perjalananku aku memfikirkan semua hal yang Layla beritahu tadi. Yah, Tyo, aku masih tidak menyangka kenapa dia mau bertemu, kenapa harus lewat temennya? Ah mungkin dia malu. Ya udahlah.
***

Hari ini mulai muncul kabar buruk, banyak yang menyangka bahwa aku ini adalah pacar Tyo, padahal bukan sama sekali. Aku kenal sama dia aja baru kemarin. Di sela-sela pelajaran aku gunakan untuk menuliskan sebuah kata-kata. Sepertinya aku memang benar-benar jatuh hati pada Tyo, “ahhh, kenal langsung aja belum kayaknya mustahil deh” kata itu selalu muncul di benakku.

Saat jam istirahat, aku selalu melewati kelasnya. Aku selalu melihat tingkah lakunya, yang terkadang membuatku tersenyum-senyum sendiri. Oh mungkin inikah cinta? Aku pernah merasakannya tetapi aku tak ingin merasakannya lagi untuk saat ini.

Setelah kita kenal begitu lama, aku mengenal dia dengan ramah, dengan baik, walaupun diantara kita tak pernah ada satu perkataan. Tiba-tiba semua perasaanku menjelma, berubah entahlah seperti apa isi otakku. Aku menyukainya, aku menyayanginya. Aku yakin dia pun begitu, tapi aku tidak pernah pecaya itu, aku tidak pernah percaya bila ia menyukaiku juga, aku hanya berharap begitu banyak padanya.

Hari ini ekstra pramuka sebenarnya, aku sama Tyo mau bicara tapi dia tetap tidak mau. Dia tetap tak membuka kesempatan untuk perasaan kita. Tapi aku masih yakin bila dia benar-benar mencintaiku. Sore itu aku hanya pulang dengan semua mimpi ku yang telah pupus. Aku tak membawa secuil harapan lagi untuk rasaku ini.
***

Malam ini aku tulis surat untuk nya. Aku harap ada sedikit respon darinya. Dan respon itu tidak membuatku patah hati dan patah semangat. Aku tahu Tuhan pasti mengerti disetiap mimpi dan harapanku.

Setelah selesai aku pun tidur. Hari ini aku sengaja bangun pagi, selain aku piket aku juga ingin melihatnya lebih awal, hehe. Aku datang pertama di sekolah, datang pertama juga di kelas, aku langsung piket, bersihkan semuanya. Setelah selesai, aku kasih surat itu langsung ke dia. Aku tak pernah mengira hal buruk apapun akan menimpa kita setelah surat itu kau baca. Tiba-tiba Imma datang mengetuk pintu kelasku. Dia meminta ijin dahulu, lalu memanggilku untuk menemuinya. Aku yang bingung, langsung saja aku menurut.

“Nich surat dari Tyo!” kata Imma sambil memberikan surat dari Tyo.

“Apa ini? Jawaban suratku tadi pagi ya?”

“Iyaa, baca aja, dia bilang dia minta maaf kalo udah nyakitin perasaan kamu, dia gak bermaksud kayak gitu, ya udah baca aja.”

“Iyaa, makasiih udah ngaterin suratnya, aku titip salam buat dia”

Seketika aku menangis, air mata ini sudah tak bisa ku tahan lagi. Tetes demi tetes mulai membasahi wajahku. Lalu ku hapus lagi begitu pun seterusnya. Aku masuk kelas dan aku lanjutkan pelajaran yang sempat tertunda, aku anggap saja ini semua tidak pernah terjadi.

“Ada apa sih, Yuk?” Tanya Ega.

“Di.. dia.. dia udah jawab semuanya” kataku terbata-bata

“Jawab apa? Bukannya diantara kalian itu tak pernah ada apa-apa?”

“Dia gak suka aku Ga, aku sih fine tapi kenapa sih yang nganter harus Imma, dulu pas kamu sama Raffi putus, Imma juga kan yang nganter?”

“Iya ya, kok aku lupa ya? Ya udah deh, kamu yang sabar aja, cowok itu gak Cuma satu kok, gak Cuma dia doang”

“Iyaa Ga, makasiih” jawabku sambil mengusap air mataku

“Iya sama-sama”
***

Sulit menjalani hari tanpanya lagi, walaupun kita hanya sebatas gebetan, tapi ternyata hal itu membuat kita menjadi bersahabat. Berbulan-bulan aku nanti jawabanmu lagi. Tapi ternyata jawaban itulah yang sudah kamu tetapkan. Aku hanya pasrah, aku menangis, bagaimana tidak jika seseorang yang aku sukai ternyata telah membuatku menangis.

Aku berharap suatu saat nanti Tuhan mempertemukan kita, dan Tuhan izinkan kita bersama. Jika Tuhan tidak mentakdirkan kita bersama biarlah perasaan itu menjadi sebuah kenangan masa SMP kita.

Senin, 01 Desember 2014

gak jelas~

Kelak akan ada yang mengisi selah selah di jemarimu yang kosong, yang akan selalu menggenggam tanganmu, yang selalu akan memberikan semngat saat kau jatuh, mungkin kini kau sedang berjuang dalam keadaan yang tak pernah kau harapkan..

Percayalah semua yang terjadi dalam hidup akan menjadikanmu lebih baik kedepannya, asal tidak menikmati rasa yang kian merambat bagai benalu dalam benak dan fikiranmu,Hidup memang ga selalu soal bahagia, tapi hidup akan selalu soal berjuang dan menjadi lebih baik lagi..

Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang kelak akan kau sesali, berharaplah sesuai batasmu dan kasta yang kau miliki, karna kenari tak akan terbang tinggi jika tidak sesuai kapasitasnya, makin tinggi ia terbang makin sakit ketika ia terjatuh, berharap lah dari hal-hal kecil yang bertahap menjadi seuatu yang besar, karena sesuatu yang besar tak akan besar tanpa adanya kecil~