Selasa, 16 Desember 2014

Hujan

Hujan lagi sore ini. Deras, dingin. Aku berlari secepat yang aku bisa menuju tempat berteduh. Di halte bis dekat taman aku berteduh. Aku menggerutu kesal, tubuhku basah kuyup. Sambil menunggu reda, tatapanku menerawang ke tetes-tetes hujan yang membasahi bumi dan orang-orang yang berlalu lalang dihadapanku menggunakan payung berwarna-warni.

rio, kalo kamu disini, Kamu bakal suka melihat pemandangan ini, gumamku dalam hati.
Aku langsung bergidik. Bukan karena dingin yang menusuk, suatu kenangan mendadak timbul diotakku yang membuatku bergidik. Kenangan yang berusaha kukubur dalam-dalam.
Hhh.. aku menghela napas panjang. Pikiranku melayang kembali ke masa lalu. ke waktu tiga tahun yang lalu, saat peristiwa itu terjadi. Aku melamun.
***
“Kakak, liat deh.. hujan, Kak!” ujar seorang anak laki-laki berusia 6 tahun saat itu. Aku tersenyum melihat dia jingkrak-jingkrak kegirangan di jalanan. Hujan deras padahal.
Rio namanya, usianya baru 6 tahun. Adikku satu-satunya. Anak yang sangat enerjik dan benar-benar menyukai sesuatu bernama  hujan. Usianya selisih 9 tahun dariku, jauh memang. Jarak yang jauh itulah yang kadang membuatku merasa kehilangan perhatian kedua orangtuaku dan… aku merasa tidak akan pernah bisa akrab dengannya.
“Rio, udah ah! Ntar sakit.. Kakak yang dimarahin ama Ibu,” kataku. Sambil membawa payung, aku mendekatinya. Tapi, dia malah berlari menjauhiku.
Dasar anak bandel! Bakal aku seret dia pulang begitu ketangkep, gerutuku kepada diri sendiri sambil mengejarnya. Lucu sekali saat itu, aku berlari mengejar dia sambil membawa payung.
Aku terus berkejar-kejaran dengan adikku itu. Mendadak, dia menghilang di suatu tikungan.
“Aduh,  Rio! Udah dong bercandanya, Kakak cape nih,” aku makin menggerutu karena cape mengejarnya. Begitu aku tiba di ujung tikungan tersebut, aku melihat peristiwa itu. Peristiwa yang tidak akan pernah terhapus dari otakku.
Sebuah mobil meluncur kencang dan langsung membuat tubuh mungil adikku, yang saat itu sedang berlari menyebrangi jalan, terpental cukup jauh. Aku langsung berlari mendekatinya. Panik, marah, dan takut, semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Payung yang sedang aku pegang jatuh ke tanah begitu kulihat tubuhnya sudah terbujur kaku di tanah dengan darah mengalir dari mulutnya. Darah yang langsung terhapus oleh tetesan air hujan. Aku menjerit.
Ibuku menangis terus menerus dihadapanku saat pemakaman Dio, Ayahku tampak sangat berduka. Sedangkan aku? Aku hanya terdiam. Diam seperti boneka. Pandangan kosong, ekspresi datar. Aku tidak menangis.
Aku harus tegar. Laki-laki tidak boleh menangis, sugesti itu yang tertanam di otakku sejak kecil. Maka, aku pun tidak menangis dihadapan mereka, tapi hatiku menjerit.
Tuhan… Aku sedih. Sangat sedih. Aku sedih karena merasa kehilangan. Namun, aku jauh lebih sedih dan menyesal karena seumur hidupnya, dia belum pernah mendengarkan kakaknya ini mengucapkan sebuah kalimat sepele tapi sakral: aku sayang kamu.
Rio, Rio, Kakak rindu kamu.
***
Mendadak lamunanku buyar. Sebuah dering telepon membuyarkan lamunanku tentang kenangan itu.
Ibu, nama pemanggil yang tertulis di HP-ku.
“Halo, bu? Ada apa?”
“Kamu dimana, sayang?” suara wanita yang lembut dan menenangkan itu bertanya padaku.
“Masih berteduh di halte, Bu. Hujan sih. Hehe,” jawabku, “Tapi udah reda koq, Ari pulang sekarang deh. Aduh, Bu… Ari gapapa koq! Gausah cemas gitu.” Dan percakapan pun berakhir.
Hujan sudah berubah menjadi gerimis. Aku pun beranjak meninggalkan halte tempatku berteduh, melangkah menuju rumahku.
Aku mendongak menatap langit yang masih kelabu.
Hujan, sampaikan rasa sayangku pada Rio, gumamku.
Dan untuk pertama kalinya sejak waktu itu, aku menangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar