Aku sudah tak dapat mendengar kabarmu... Padahal jalan yang kau lalui
sama dengan jalan yang kutelusuri ..... jejak langkahkupun masih
terlihat disana... namun di persimpangan aku tak tau arahmu... dan angin
tak lagi menghantarkan percikan dirimu ke pelukanku... Mungkin hanya
sesekali kau muncul dalam semu jeratan mi...mpiku... Dan aku tak pernah
tahu apakah aku pernah terbang mengunjungi kabut mimpimu.
Apa
yang sedang kau lakukan sekarang... ?.. Sungguh, aku benar-benar tak
tahu. Aku kehilangan jejak langkahmu sejak kau letakkan kaca pemisah
buram di antara kita... Bahkan memandang dari balik kaca untuk mengintip
bayang dirimu pun aku tak bisa... Kabut pedih yang melingkupi terlalu
tebal. Hanya gegap nyeri berdenyut yang kudapat.
Untaian
masa kita terburai sudah. Hanya tinggal serpihan-serpihan jiwa yang
berserakan. Terbelenggu dalam hening yang menyiksa .... Tapi aku rindu.
Bodohkah
aku jika masih saja mengalamatkan rindu padamu..?.. Saat tak ada lagi
detik yang kau lewatkan untuk mengingatku .... Saat tak ada lagi sisa
diriku yang terpatri dalam hidupmu... Cabikan kenangan tentangku telah
terburai .... Bahkan hanya sekedar namaku pun mungkin tak ingin kau
ingat lagi...
Hanya hening yang kau tawarkan padaku....
Tanpa imbalan apapun... Kau lontarkan hening ketika kupersembahkan
rinduku... Hening yang terus meraja... Hening yang lahir dari benci...
Rinduku terbentur hening..... Tapi aku masih tetap merindumu....
Kurengkuh hening ketika kumerindumu.
Sudahlah.... Walau
aku berteriak sekuat tenaga kau tak akan mendengarku... Kau lebih
memilih hening untuk menggantikan jerit hatiku... Hening yang
menulikan... Hening yang hanya mencumbui cakap rindu kebisuanmu...
Semoga kau baik-baik saja di seberang hening yang memisahkan kita.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar